ACEH TIMUR — Lingkaran polri.id
Gejolak internal mengguncang tubuh PDAM Aceh Timur. Para karyawan akhirnya angkat bicara setelah selama tiga bulan terakhir tidak menerima gaji, sebuah kondisi yang dinilai mencerminkan krisis serius dalam pengelolaan perusahaan daerah tersebut.
Di balik tuntutan menjaga layanan air bersih tetap berjalan untuk masyarakat, para pekerja justru menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat. Kondisi ini memicu keresahan dan kekecewaan yang kini mulai mencuat ke permukaan.
“Sudah tiga bulan kami tidak digaji. Kami sudah berulang kali menyampaikan, tapi tidak ada respons jelas. Seolah-olah suara kami tidak dianggap,” ujar salah seorang karyawan yang meminta identitasnya dirahasiakan, Jumat (24/4/2026).
Lebih dari sekadar persoalan keterlambatan gaji, muncul pula dugaan adanya ketidakberesan dalam tata kelola keuangan internal. Sejumlah karyawan menyoroti minimnya transparansi dalam arus kas perusahaan, yang dinilai semakin tidak jelas dalam beberapa waktu terakhir.
“Kami tidak tahu lagi bagaimana kondisi keuangan sebenarnya. Tidak ada keterbukaan. Uang masuk dan keluar seperti tidak terpantau,” lanjut sumber tersebut.
Situasi ini menempatkan para karyawan dalam posisi sulit. Di satu sisi, mereka tetap dituntut profesional dalam memastikan distribusi air bersih bagi masyarakat tidak terganggu. Namun di sisi lain, hak dasar sebagai pekerja justru terabaikan tanpa kepastian.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen PDAM Aceh Timur belum memberikan keterangan resmi terkait keterlambatan gaji maupun dugaan masalah pengelolaan keuangan. Pemerintah Kabupaten Aceh Timur juga belum menyampaikan sikap atau langkah konkret untuk merespons kondisi ini.
Minimnya respons dari pihak terkait semakin memperkuat kekhawatiran adanya persoalan internal yang belum terungkap ke publik. Sejumlah kalangan mulai mendesak dilakukannya audit independen guna memastikan transparansi serta akuntabilitas pengelolaan keuangan perusahaan.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh para karyawan, tetapi juga berpotensi mengganggu keberlangsungan layanan air bersih bagi masyarakat Aceh Timur secara luas.
(Erna / Mak Nek)









