Pelalawan – Riau | Lingkaranpolri.id
Guru SDN 006 Pangkalan Kerinci, Sih Yuliawati, terus mengembangkan budaya literasi melalui kegiatan menulis dan pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Fatira. Selain menjalankan tugas sebagai pendidik, perempuan yang telah menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar itu kini tercatat menghasilkan sembilan buku solo dan terlibat dalam sekitar 85 buku, termasuk antologi bersama penulis lain.
Perjalanan Sih Yuliawati dalam dunia literasi tidak terlepas dari kegemarannya membaca dan menulis sejak kecil. Di tengah kesibukan sebagai guru dan tanggung jawab keluarga, ia tetap berupaya menghasilkan karya sekaligus mendorong tumbuhnya kebiasaan membaca di kalangan anak-anak dan masyarakat.
Sih mengatakan, kegemarannya membaca dan menulis sudah tumbuh sejak kecil. Saat masih duduk di sekolah dasar sekitar 1983–1984, ia pernah mengirimkan cerpen ke surat kabar Riau Pos.
“Sejak kecil saya memang suka membaca dan menulis. Waktu masih SD, saya pernah mengirimkan cerpen ke Riau Pos sekitar 1983–1984. Dari kebiasaan membaca itulah, perlahan-lahan saya mulai mencoba menulis,” kata Sih kepada wartawan pada pertengahan Oktober lalu.
Untuk memperdalam pengetahuannya, Sih juga membaca buku-buku motivasi menulis. Karena keterbatasan biaya, ia meminta ayahnya membelikan buku bekas yang dijual di tempat loak.
Kegemaran menulisnya sempat terhenti akibat kesibukan pendidikan, pekerjaan, dan keluarga. Namun, pada 2017, ia kembali menemukan kesempatan untuk menerbitkan karya melalui buku antologi Menuai Benih Literasi di Bumi Lancang Kuning.
Sejak saat itu, Sih semakin aktif berkarya dan mengembangkan kemampuannya dalam dunia kepenulisan.
Sembilan Buku Solo dan Puluhan Karya Antologi
Setelah kembali aktif menulis, Sih mulai menerbitkan sejumlah buku solo. Di antaranya Melodi Cinta Setangkai Mawar, Emak Idolaku, Di Antara Doa dan Rindu, Aku dan Puisi, serta Indahnya Hidup Rukun.
Selain menerbitkan buku secara mandiri, ia juga menghasilkan karya dalam berbagai antologi puisi, cerpen, pantun, karmina, dan syair. Secara keseluruhan, Sih tercatat telah menghasilkan sembilan buku solo dan terlibat dalam sekitar 85 buku bersama penulis lainnya.
Produktivitas tersebut menunjukkan konsistensinya dalam mengembangkan karya tulis di tengah aktivitas sebagai pendidik. Baginya, menulis bukan sekadar kegiatan untuk menghasilkan buku, tetapi juga menjadi salah satu cara untuk berbagi gagasan dan pengalaman dengan pembaca.
Buku Solo Sih Yuliawati Raih Penghargaan Gubernur Riau
Salah satu pencapaian Sih dalam dunia kepenulisan terjadi pada 25 November 2019. Buku solo berjudul Melodi Cinta Setangkai Mawar memperoleh penghargaan dari Gubernur Riau saat itu, Syamsuar, dalam rangkaian peringatan Hari Guru Nasional.
Penghargaan tersebut diberikan bersamaan dengan peluncuran buku karya guru dan siswa yang melibatkan 189 penulis se-Riau.
Pencapaian ini menjadi bagian penting dari perjalanan Sih dalam mengembangkan potensi menulis. Pengalaman tersebut juga memperlihatkan bahwa profesi guru dapat berjalan beriringan dengan kegiatan berkarya dan berkontribusi dalam pengembangan literasi.
Perjalanan Karier Sih Yuliawati sebagai Guru
Sih menempuh pendidikan di SDN 037 Rambah Samo dan lulus pada 1985. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan di SMPN 3 Pasir Pengarayan pada 1988 dan SPG Negeri Pekanbaru pada 1991.
Ia diangkat menjadi pegawai negeri sipil pada 1994 dan mengawali karier sebagai guru di SDN 094 Sei Paku II, Kecamatan Kampar Kiri.
Pada September 2001, ia pindah tugas ke Kabupaten Pelalawan dan sejak itu mengajar di SDN 006 Pangkalan Kerinci sampai sekarang.
Di tengah kesibukannya mengajar dan mengurus keluarga, Sih melanjutkan pendidikan Diploma II Pendidikan Guru Sekolah Dasar melalui Universitas Terbuka di Kabupaten Pelalawan dan lulus pada 2009. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar pada 2012.
Perjalanan pendidikan dan karier tersebut menjadi bagian dari pengabdiannya di dunia pendidikan. Selain menjalankan tugas mengajar, ia terus mengembangkan minat menulis dan berupaya menumbuhkan kecintaan terhadap buku di lingkungan sekitarnya.
Tantangan Literasi Anak di Era Digital
Menurut Sih, salah satu tantangan literasi di sekolah saat ini adalah kebiasaan sebagian anak yang ingin memperoleh informasi secara cepat, di tengah perkembangan teknologi digital.
“Tantangan literasi di sekolah sekarang cukup besar. Rasa ingin tahu anak-anak sebenarnya tinggi, tetapi banyak yang ingin mendapatkan jawaban secara instan. Pengaruh teknologi sangat besar terhadap kebiasaan mereka. Karena itu, budaya membaca harus terus ditumbuhkan,” ujarnya.
Ia menilai, kegiatan literasi tidak cukup hanya mengajarkan anak membaca dan mengenali tulisan. Anak-anak juga perlu dibiasakan memahami isi bacaan, menghubungkan informasi dengan pengalaman, serta menyampaikan pendapat berdasarkan apa yang mereka baca.
Menurutnya, kebiasaan membaca perlu dibangun secara berkelanjutan melalui dukungan sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya mampu memperoleh informasi, tetapi juga dapat memahami dan mengolah informasi tersebut secara lebih baik.
TBM Fatira Menjadi Ruang untuk Menumbuhkan Minat Baca
Untuk mendukung upaya tersebut, Sih mengembangkan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Fatira. Taman bacaan ini memiliki koleksi awal sekitar 85 eksemplar buku yang diharapkan dapat dimanfaatkan masyarakat dan anak-anak untuk meningkatkan minat baca.
“Melalui TBM Fatira, saya ingin buku-buku lebih dekat dengan masyarakat dan anak-anak. Koleksi yang ada memang belum banyak, tetapi saya berharap tempat ini bisa menjadi ruang untuk menumbuhkan kecintaan membaca. Gerakan literasi tidak harus dimulai dari fasilitas besar. Yang penting ada kemauan untuk membuka akses dan mengajak orang lain membaca,” katanya.
Keberadaan TBM Fatira menjadi salah satu upaya Sih untuk memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan. Melalui taman bacaan tersebut, ia berharap anak-anak dan masyarakat memiliki kesempatan lebih besar untuk mengenal buku serta membangun kebiasaan membaca.
Sih berharap pengembangan TBM Fatira mendapat dukungan dari berbagai pihak. Menurutnya, penguatan budaya membaca membutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, dan masyarakat agar kegiatan literasi dapat tumbuh menjadi kebiasaan sehari-hari.
Terus Menulis dan Menyiapkan Karya untuk Anak
Selain mengajar dan mengelola kegiatan literasi, Sih masih terus menulis. Salah satu naskah terbarunya, Delia dan Seekor Kera, saat ini disebutnya masih dalam proses di Balai Bahasa Riau.
“Saya berharap buku ini bisa segera menemui pembacanya, terutama anak-anak,” tuturnya.
Karya tersebut menjadi bagian dari upayanya untuk terus menghasilkan tulisan yang diharapkan dapat menjangkau pembaca, khususnya kalangan anak-anak.
Dengan pengalaman sebagai pendidik sekaligus penulis, Sih terus berupaya menjadikan kegiatan membaca dan menulis sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Ia berharap karya-karyanya dapat memberikan manfaat bagi pembaca serta mendorong tumbuhnya minat literasi sejak usia dini.
Sih yang memiliki motto hidup, “Indahnya Hidup dengan Saling Berbagi”, seakan ingin memperlihatkan bahwa melalui profesi sebagai guru, karya tulis, dan TBM Fatira, ia berharap dapat terus berkontribusi dalam menumbuhkan budaya membaca dan menulis di kalangan anak-anak maupun masyarakat.
Perjalanan Sih Yuliawati memperlihatkan bahwa gerakan literasi dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti membiasakan diri membaca, menulis, dan membuka akses terhadap buku. Melalui konsistensi berkarya dan pengelolaan TBM Fatira, ia terus berupaya mendekatkan literasi kepada masyarakat di Kabupaten Pelalawan.
JZ LP







