Pelalawan -Lingkaran Polri.Id
Halaman Rumah Baca Datuk Sati Diraja, Desa Rantau Baru, Pangkalan Kerinci, Sabtu 20/6/2026 siang, berubah jadi panggung puisi anak. Program rutin “Sabtu Ceria Bersama Buku” kembali digelar. Kali ini pesertanya: relawan + siswa SD Negeri 001 Rantau Baru. Fokusnya: teknik baca puisi biar nggak kaku, nggak gugup, dan pesannya sampai.
Pembina Rumah Baca, Griven H. Putera, langsung turun tangan memandu. Di depan anak-anak dia bedah 6 jurus dasar membaca puisi: pahami isi, lafalkan jelas, pakai intonasi tepat, mainkan ekspresi, kasih jeda, tampil percaya diri. Plus 2 senjata rahasia: kontak mata dan gerak tubuh wajar.
Griven bilang kunci pertama bukan suara keras, tapi ngerti makna.
“Pembaca puisi harus memahami makna puisi yang akan dibacakan. Setelah itu, perhatikan artikulasi, intonasi, ekspresi, jeda, serta pengaturan napas,” tegasnya.
Dia ingatkan: kontak mata ke pendengar bikin puisi hidup. Gerak tubuh secukupnya bikin pesan nggak tenggelam. Intinya: puisi dibaca, bukan dihafal mati.
Kalimat Griven yang paling nempel:
“Tidak ada keahlian yang dapat diraih tanpa latihan. Membaca puisi juga demikian. Semakin sering berlatih, semakin baik kemampuan yang dimiliki.”
Anak-anak SD Negeri 001 Rantau Baru langsung praktik. Salah ucap ketawa, coba lagi, ketawa lagi. Relawan Hasan Basri dan Arizon dampingi dari awal sampai bubar. Antusiasme peserta nggak luntur sampai sesi terakhir.
Rumah Baca Jadi Ruang Aman Literasi
“Sabtu Ceria Bersama Buku” bukan acara sekali jadi. Ini program rutin Rumah Baca Datuk Sati Diraja buat narik anak dekat buku lewat cara yang nggak menakutkan. Nggak ceramah. Nggak ujian. Yang ada cuma halaman, buku, puisi, dan tawa.
Di era gawai lebih berisik dari suara guru, kegiatan ini jadi bukti: literasi masih bisa seru. Dari Rantau Baru, anak-anak Pelalawan belajar satu hal – berani baca puisi hari ini, besok berani baca gagasan.
Editor : Zurwanto








