SULUT, KOTAMOBAGU, Lingkaranpolri.id – “Selasa, 25 Agustus 2026″– sudah dua minggu berlalu sejak tragedi maut di Upai, Kotamobagu yang menelan 9 korban jiwa. Namun hingga saat ini belum ada penjelasan terbuka dari pihak berwenang terkait perkembangan penyidikan.
Ketiadaan informasi resmi membuat sejumlah warga bertanya-tanya. Ada apa di balik sepinya kabar?
Berdasarkan informasi yang berkembang di masyarakat, proses pertanggungjawaban sejauh ini hanya tertuju kepada atlet yang terlibat. Sementara pihak komite, panitia, dan penyelenggara kegiatan disebut-sebut “tutup mata”.
“Ini yang kami tidak habis pikir. Masa cuma atlet yang dikejar untuk biaya. Lah yang bikin acara, yang kasih izin, yang dapat keuntungan, kemana? Tanggung jawabnya mana?” ujar salah satu warga Upai dengan nada kecewa.
Warga menilai, panitia dan pemberi izin event memiliki tanggung jawab penuh atas keselamatan peserta dan penonton.
Lebih ironis lagi, tragedi yang menelan “9 nyawa” ini nyaris tidak terdengar di pemberitaan media massa. Ketiadaan liputan membuat publik berspekulasi.
“Kemana media? Apa karena ada anak pejabat yang terlibat makanya tidak ada yang berani muat? Kami jadi bertanya-tanya,” kata warga lainnya.
Tagar “No Viral No Justice” pun mulai terdengar di obrolan warga. Sindiran itu muncul karena publik merasa keadilan baru jalan kalau sudah ramai di media sosial.
“Apakah Cuma Sampai Turut Berduka Cita?”
Warga menuntut kejelasan. Bukan hanya ucapan belasungkawa, tapi tindakan nyata dan kepastian hukum.
“Sudah 9 nyawa melayang. Dimana keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? Jangan sampai kasus ini selesai cuma dengan ‘turut berduka cita’,” tegas warga.
Warga mendesak 3 pihak segera bertanggung jawab:
1. “Komite Pelaksana Kegiatan”
2. “Penyelenggara Event”
3. “Pemberi Izin”
“Usut sampai tuntas. Jangan tebang pilih. Proses semua. Rakyat kecil juga manusia,” ujar warga.
Warga meminta Polda Sulut dan Polres Kotamobagu segera menggelar konferensi pers. Menjelaskan siapa saja yang sudah diperiksa, siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana nasib para korban.. Red//
Penulis : Engelber Metariang





