Haji Maop dan Jalan Sunyi Kemanusiaan di Pante Bidari

Senin, 15 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Timur —Lingkaran polri.id Bantuan kemanusiaan itu tidak berhenti di satu titik. Dari Gampong Buket Bata, Buket Kareung, Seuneubok Tuha, Seuneubok Saboh, Pante Rambong, hingga Pante Labu, jejak kepedulian Azhari M Nur—yang akrab disapa Haji Maop—terhampar mengikuti alur luka yang ditinggalkan banjir besar di Kecamatan Pante Bidari.

 

Pagi itu, lumpur masih menempel di kaki-kaki warga Gampong Pante Rambong. Bau tanah basah bercampur sisa banjir menyelimuti udara. Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, seorang lelaki datang tanpa pengeras suara, tanpa baliho, tanpa iring-iringan. Ia melangkah perlahan, menyapa warga satu per satu, seolah ingin memastikan: “Saya benar-benar hadir.”

 

Dialah Azhari M Nur (Haji Maop), Anggota DPRA periode 2024–2029. Bagi warga Pante Bidari, ia tidak datang sebagai pejabat, melainkan sebagai manusia—yang memilih menempuh jalur sunyi kemanusiaan, mendatangi langsung gampong-gampong terdampak, dari pesisir hingga pedalaman.

Haji Maop tidak langsung menyerahkan bantuan. Ia memilih duduk di bangku kayu dapur umum, berbincang dengan relawan, mendengar cerita ibu-ibu yang kehilangan perabot rumah tangga, dan menepuk pundak warga yang masih menyimpan trauma. Baginya, bencana bukan sekadar angka kerugian, tetapi wajah-wajah lelah yang butuh dikuatkan.

 

Di dapur umum itulah denyut kehidupan masih bertahan. Asap mengepul dari tungku sederhana. Para relawan memasak dengan bahan seadanya—beras, ikan, dan sayur hasil sumbangan masyarakat. Dapur ini tidak berdiri karena sistem bantuan yang mapan, melainkan karena gotong royong: rakyat menolong rakyat.

 

Ridwan, koordinator dapur umum Gampong Pante Rambong, masih mengingat jelas momen kedatangan Haji Maop.

 

“Beliau tidak datang sekadar melihat. Beliau bertanya, besok kami masih bisa memasak atau tidak. Itu pertanyaan yang sangat jujur, ujarnya.

 

Pertanyaan itu terasa dalam bagi para relawan. Sebab dapur umum bertahan hari demi hari tanpa kepastian. Hari ini ada beras, besok belum tentu. Namun semangat tetap menyala, karena mereka percaya: selama masih ada yang peduli, dapur ini tidak boleh mati.

 

Haji Maop memahami kegelisahan itu. Ia menyerahkan bantuan kebutuhan pokok, namun lebih dari itu, ia menghadirkan empati. Ia tidak melontarkan janji besar. Ia hanya memastikan satu hal: masyarakat tidak merasa ditinggalkan.

 

“Apa yang kami bawa mungkin tidak besar. Tapi kehadiran itu penting. Masyarakat harus tahu bahwa mereka tidak sendiri, katanya pelan.

 

Di sela kunjungan, Haji Maop juga menyempatkan diri berbincang dengan anak-anak pengungsi. Sebagian masih takut saat hujan turun, sebagian sulit tidur di malam hari. Trauma itu nyata—luka yang tak selalu terlihat, namun membekas lama.

 

Camat Pante Bidari, Darkasyi, SE, menilai kehadiran langsung seperti ini memberi dampak besar bagi warga.

 

“Bukan hanya bantuan materi. Kehadiran di lapangan memberi kekuatan moril. Ini yang paling dibutuhkan saat kondisi belum normal, ujarnya.

 

Banjir telah merusak rumah, kebun, dan harapan banyak keluarga di Buket Bata, Buket Kareung, Seuneubok Tuha, Seuneubok Saboh, Pante Rambong, hingga Pante Labu. Di tengah keterbatasan respons dan lambannya pemulihan, solidaritas sosial menjadi penyangga utama kehidupan.

 

Di antara lumpur yang belum kering, langkah Haji Maop menjadi bagian dari cerita itu—cerita tentang kepedulian yang tidak menunggu segalanya sempurna, tentang kehadiran yang lebih bermakna daripada pidato panjang.

 

Saat ia pamit meninggalkan dapur umum, tak ada tepuk tangan, tak ada sorotan kamera berlebihan. Hanya lambaian tangan warga dan harapan sederhana: semoga bantuan terus mengalir, dan kehidupan perlahan kembali pulih.

 

Di Pante Bidari, Haji Maop tidak sedang membangun citra. Ia sedang berjalan di jalan sunyi kemanusiaan—jalan yang jarang disorot, tetapi paling dirasakan oleh mereka yang benar-benar membutuhkan.

(Erna/maknek)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Dedikasi Puluhan Tahun Diakui Negara, 6 Sastrawan Riau Raih Apresiasi Kemendikdasmen 2026
Bupati Aceh Utara Pastikan Persoalan Sawah dan Jalan di Langkahan Segera Direalisasikan
Mantan Pj Kades Jaya Bakti Bungkam Terkait Dugaan Proyek Sawit Rp 100 Juta yang Terbengkalai
Polres Langkat Kerahkan Personel Amankan Malam Takbiran dan Festival Pawai Obor di Stabat
Kapolres Langkat Pimpin Penyembelihan Hewan Qurban, Wujud Kepedulian Polri kepada Masyarakat
Semarak Qurban di Kampung Simpang Tiga Langkahan, Warga Kompak Gotong Royong di Hari Raya Pertama
Jhony Antony Sampaikan Ucapan Selamat Hari Raya Iduladha 1447 H, Ajak Masyarakat Perkuat Kebersamaan dan Kepedulian
Oknum P2TL Diduga Kerja Sama Pencurian Listrik, Manager ULP Ampera Kaget “Gawat”  

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 01:48 WIB

Dedikasi Puluhan Tahun Diakui Negara, 6 Sastrawan Riau Raih Apresiasi Kemendikdasmen 2026

Kamis, 28 Mei 2026 - 18:15 WIB

Bupati Aceh Utara Pastikan Persoalan Sawah dan Jalan di Langkahan Segera Direalisasikan

Rabu, 27 Mei 2026 - 19:48 WIB

Mantan Pj Kades Jaya Bakti Bungkam Terkait Dugaan Proyek Sawit Rp 100 Juta yang Terbengkalai

Rabu, 27 Mei 2026 - 19:31 WIB

Polres Langkat Kerahkan Personel Amankan Malam Takbiran dan Festival Pawai Obor di Stabat

Rabu, 27 Mei 2026 - 19:26 WIB

Kapolres Langkat Pimpin Penyembelihan Hewan Qurban, Wujud Kepedulian Polri kepada Masyarakat

Berita Terbaru