LINGKARAN POLRI.COM//OKU TIMUR – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi andalan pemerintah dalam meningkatkan gizi anak sekolah, kini diduga bermasalah di Desa Dadi Rejo, Kecamatan Belitang III,Rabu(11/2/2026).
Temuan Wartawan Lingkaran Polri OKU Timur di lapangan memunculkan tanda tanya besar: apakah nilai anggaran benar-benar sampai ke piring siswa?
Investigasi yang dilakukan pada Rabu (Februari 2026) di SD Negeri 1 Kuto Sari menunjukkan menu MBG yang dibagikan kepada siswa hanya terdiri dari:
Irisan kentang
Ayam geprek
Sayur acar
Tahu
Pisang
Sekilas terlihat lengkap. Namun setelah ditelusuri berdasarkan perkiraan harga bahan di pasaran lokal, nilai makanan tersebut diperkirakan hanya sekitar:Rp7.000 per porsi
Berikut rincian perkiraan harga:
Menu Estimasi Harga
Irisan kentang Rp2.000
Ayam geprek Rp3.500
Sayur acar Rp500
Tahu Rp500
Pisang Rp500
Total Rp7.000
Padahal, informasi yang dihimpun menyebutkan anggaran MBG per anak diduga berada di kisaran Rp10.000. Jika angka tersebut benar, maka muncul indikasi selisih sekitar Rp3.000 per porsi yang kini menjadi sorotan.
Orang Tua Murid Mulai Bertanya
Beberapa wali murid mengaku bersyukur ada program MBG, namun menyayangkan jika kualitas dan nilai makanan tidak sesuai harapan.
“Kami senang ada makan gratis untuk anak-anak, tapi kalau nilainya segitu, ya wajar kalau orang tua jadi curiga,” ujar salah satu wali murid yang meminta namanya dirahasiakan.
Minta Transparansi Pengelola Dapur MBG
Sorotan kini mengarah pada pengelolaan dapur MBG di wilayah tersebut. Masyarakat berharap ada keterbukaan anggaran dan pengawasan ketat, agar program nasional ini tidak tercoreng oleh dugaan penyimpangan di tingkat pelaksana.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola dapur MBG Desa Dadi Rejo maupun instansi terkait belum memberikan klarifikasi resmi. Tim Wartawan Lingkaran Polri OKU Timur masih berupaya meminta konfirmasi sebagai bagian dari hak jawab dan keberimbangan berita.
Jangan Sampai Program Bagus Rusak di Lapangan
MBG adalah program yang menyangkut hak gizi anak-anak sekolah. Jika benar ada ketidaksesuaian, maka ini bukan sekadar soal angka, tapi soal masa depan generasi muda.
Publik kini menunggu:
Apakah ini hanya kesalahpahaman… atau ada yang harus dipertanggungjawabkan?
(Dadik/Jhony)





