LINGKARANPOLRI.ID//PALEMBANG – Aroma kontroversi kembali menyelimuti Dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) Yuspa yang berada di kawasan Kemang Agung, Kecamatan Kertapati. Kedatangan awak media yang tergabung dalam Media Center Jurnalis Kertapati (MC-JK) untuk melakukan investigasi justru mendapat perlakuan tak biasa: dihalangi petugas keamanan, rolling door ditutup rapat, hingga suasana di dalam dapur mendadak panik seolah ada sesuatu yang sengaja disembunyikan dari sorotan publik.
Situasi ini semakin memantik tanda tanya besar di tengah masyarakat. Pasalnya, dapur MBG Yuspa sebelumnya sudah menjadi sorotan akibat dugaan persoalan limbah berulat dan tumpukan sampah yang dinilai mengganggu lingkungan sekitar.
Awal mula polemik ini terjadi pada 14 Mei 2026 lalu. Saat itu, tim MC-JK mengirimkan konfirmasi resmi terkait kondisi dapur kepada seseorang bernama Diky Rahmad yang disebut sebagai SPPI MBG Kertapati. Respons awal terkesan santai dan kooperatif.
“Terimakasih informasinya Pak, akan kami tindak lanjuti, boleh tau siapa nama Bapak dan Bapak dari mana?” tulis Diky Rahmad dalam pesan balasan.
Tim MC-JK kemudian menjelaskan identitas sebagai awak media wilayah Kertapati yang sedang menjalankan fungsi kontrol sosial. Namun suasana berubah drastis setelah berita terkait kondisi dapur MBG Yuspa diterbitkan pada Kamis (21/05/2026).
Diky Rahmad mendadak membantah keterlibatannya dan melontarkan ancaman hukum kepada awak media.
“Maaf Pak Anda salah orang, jangan asal menerbitkan nama, saya bukan SPPI di dapur yang Bapak beritakan,” tulisnya.
Tak hanya itu, ia juga membawa-bawa Pasal 310 KUHP tentang pencemaran nama baik serta Pasal 433 UU No.1 Tahun 2023, seolah pemberitaan yang diterbitkan MC-JK merupakan tindakan melanggar hukum.
Perubahan sikap yang mendadak ini membuat awak media semakin curiga. MC-JK pun mempertanyakan alasan Diky Rahmad sejak awal memberikan respons dan pernyataan jika memang tidak memiliki kaitan dengan dapur MBG tersebut.
Merasa perlu meluruskan persoalan secara terbuka, tim MC-JK mengajak Diky Rahmad untuk bertemu langsung dan membahas poin mana dalam pemberitaan yang dianggap keliru. Namun bukannya memberi klarifikasi, Diky Rahmad justru mengarahkan awak media datang ke lokasi dapur MBG Yuspa di Kemang Agung.
Ironisnya, sesampainya di lokasi, sosok Diky Rahmad justru tak terlihat sama sekali. Awak media malah diarahkan untuk menemui Diky Anuari yang disebut sebagai SPPI di dapur tersebut.
Ketegangan mulai terasa ketika awak media tiba di depan gerbang dapur. Saat ditanya keberadaan Diky Rahmad, petugas keamanan malah menunjukkan sikap tertutup. Suasana di dalam dapur mendadak riuh, beberapa pekerja terlihat panik, dan rolling door langsung ditutup rapat seolah takut aktivitas di dalam terlihat publik.
Alih-alih memberikan penjelasan, petugas keamanan justru terus menghalangi akses wartawan yang hendak menjalankan tugas jurnalistik dan investigasi.
Melihat situasi tersebut, Heri selaku perwakilan MC-JK angkat bicara dengan nada tegas.
“Kami kemari karena sudah janji mau ketemuan. Kami juga awak media Kertapati, kami mau investigasi! Kami selaku kontrol sosial yang ada di Kertapati ini!” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa program MBG merupakan program negara, bukan usaha pribadi yang bisa ditutup-tutupi dari pengawasan publik.
“Ingat, ini bukan usaha pribadi atau warung makan milik sendiri! Ini MBG, Program Presiden Prabowo Subianto! Kalau kami dihalangi, berarti kemerdekaan pers kami dirampas! Kalau begini caranya, kami makin mempertanyakan: ada apa sebenarnya dengan dapur MBG Yuspa Kemang Agung ini? Kenapa harus takut ditinjau?” lanjutnya lantang.
Hingga berita ini diterbitkan, tim MC-JK mengaku belum berhasil bertemu langsung baik dengan Diky Rahmad maupun Diky Anuari. Ancaman pasal hukum yang sebelumnya dilontarkan pun dinilai hanya gertakan, karena tidak disertai penjelasan ataupun hak jawab yang jelas terhadap isi pemberitaan.
Sikap tertutup, dugaan penghalangan tugas jurnalistik, hingga aksi buru-buru menutup rolling door justru semakin memancing spekulasi publik. Banyak warga kini bertanya-tanya: apa sebenarnya yang terjadi di balik tembok dapur MBG Yuspa? Mengapa program negara yang seharusnya transparan justru terkesan dijaga ketat seperti area terlarang?
MC-JK menegaskan akan terus mengawal dan menginvestigasi persoalan ini sampai tuntas demi kepentingan masyarakat dan keterbukaan publik.
(Jhony)





