Jakarta– Lingkaran Polri.Id
Di tengah serba digital dan serba praktis, syariat kurban tetap mempertahankan penyembelihan hewan ternak. Para ulama menyebut alasannya bukan soal kepraktisan, melainkan karena hewan adalah simbol pelepasan sesuatu yang paling dicintai manusia.
Menurut Dr. Iswadi M. Yazid, Lc.,M.Sy, pemilihan hewan kurban seperti sapi, kambing, dan domba bukan tanpa makna. Dalam masyarakat Arab kuno maupun masa kini, hewan ternak merupakan aset ekonomi yang berharga. Saat seseorang menyerahkan hewan terbaiknya, ia sebenarnya sedang dilatih melepaskan keterikatan duniawi.
“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian,” kutip Dr. Iswadi dari QS. Al-Hajj: 37. Ayat ini menegaskan bahwa esensi kurban terletak pada kualitas ketakwaan dan keikhlasan, bukan pada materi sembelihannya.
Secara historis, tradisi ini berakar pada kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan menyembelih putranya, Ismail AS. Allah kemudian menggantinya dengan sembelihan besar sebagai simbol pengorbanan yang lebih manusiawi. Sejak itu, hewan menjadi media ibadah yang sarat makna filosofis dan spiritual.
Berbeda dengan transfer uang yang bisa dilakukan tanpa keterlibatan emosional, penyembelihan hewan menghadirkan pengalaman batin yang nyata. Nabi Muhammad SAW sendiri menekankan pentingnya ihsan atau berbuat baik, termasuk saat menyembelih. “Sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan dalam segala hal,” sabdanya.
Selain dimensi spiritual, kurban juga berfungsi sebagai instrumen pemerataan sosial. Daging kurban dibagikan langsung kepada fakir miskin dan tetangga, menciptakan solidaritas yang jarang terjadi dalam kehidupan modern yang individualistik. Bagi banyak masyarakat kecil, Idul Adha adalah satu-satunya momen mereka bisa menikmati daging dalam jumlah cukup.
Meski begitu, substansi kurban mulai bergeser. Beberapa pihak menjadikan kurban sebagai simbol status sosial dan ajang pencitraan, lengkap dengan dokumentasi media sosial. Padahal, inti ibadah ini adalah menyembelih ego, keserakahan, dan cinta dunia yang berlebihan.
Untuk mengembalikan makna aslinya, Dr. Iswadi menekankan empat langkah: edukasi filosofi kurban, penerapan prinsip ihsan terhadap hewan dan lingkungan, distribusi yang profesional dan tepat sasaran, serta menjadikan Idul Adha sebagai ruang muhasabah kolektif di tengah kesenjangan ekonomi.
“Selama manusia masih cenderung mencintai dunia secara berlebihan, maka simbol pengorbanan melalui hewan ternak akan tetap relevan sepanjang zaman,” ujarnya.
Editor : Zurwanto





