Pelalawan – Lingkaran Polri.Id
Panggung Helat Pelalawan ke-27 membara pada malam ketiga, Sabtu (10/10/2026). Parade tari yang digagas Dewan Kesenian Pelalawan sukses menyulap panggung utama menjadi ruang ekspresi budaya Melayu yang penuh pesona dan sarat makna.
Tabuhan gendang menggema, gerak gemulai penari berpadu cahaya panggung, ribuan pasang mata terpukau. Bukan sekadar tontonan, parade ini menjadi panggung pembuktian bakat-bakat lokal dari berbagai sanggar tari umum dan sekolah se-Kabupaten Pelalawan.
Ketua Dewan Kesenian Pelalawan, H. Rozali, FE, menegaskan parade ini bukan sekadar lomba. Ini adalah gerakan untuk menanamkan cinta budaya Melayu kepada generasi muda.
“Ajang ini menjadi wadah bagi anak-anak dan generasi muda untuk menampilkan bakat serta kreativitas mereka. Kita ingin seni dan budaya Melayu Pelalawan terus tumbuh, dikenal, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Sejumlah karya tari kearifan lokal tampil memikat dan penuh pesan. Ada Tari Mano Sialang, Orek Boeh, hingga Surut Berpantang yang digarap dengan koreografi kreatif, iringan musik Melayu, dan kostum warna-warni yang memanjakan mata.
Antusiasme penonton pecah saat dewan juri mengumumkan para pemenang. Sorak sorai dan tepuk tangan panjang menjadi bentuk apresiasi atas kerja keras para penari, pelatih, dan koreografer.
Di tengah derasnya arus modernisasi, parade tari ini menjadi bukti bahwa Helat Pelalawan bukan hanya soal kemeriahan panggung. Ini adalah momentum untuk memperkuat identitas daerah.
Sejalan dengan tema Helat ke-27 “Mo La, Awak Bangun Pelalawan”, membangun Pelalawan bukan hanya soal fisik dan ekonomi, tetapi juga merawat kebudayaan dan memberi ruang bagi generasi muda untuk berkarya.






