PELALAWAN – LINGKARAN POLRI.ID
Jatah beras 30 kilogram untuk warga miskin ekstrem justru mendarat di dapur warga ber-AC, pemilik kebun sawit dan mobil. Sementara janda tua dan buruh panen yang rumahnya berdinding papan kelaparan karena dicap “orang mampu” oleh negara. Itulah potret telanjang carut-marutnya Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) di Kabupaten Pelalawan.
Fakta memalukan ini terkuak dalam penyaluran bantuan pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) rapelan Juli-September di Kecamatan Pangkalan Kerinci. Awak media menemukan penerima bansos yang secara sistem tercatat berada di desil 6 – kategori yang secara aturan haram menerima bantuan. Padahal, Bapanas hanya untuk desil 1 hingga 5, yakni warga miskin dan rentan miskin.
Artinya, sistem negara sendiri yang meloloskan orang mampu sebagai penerima.
Di sisi lain, keadilan justru dilukai. Warga Desa Makmur, Kecamatan Pangkalan Kerinci yang hanya mengandalkan suami buruh serabutan dan dirinya sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) harus gigit jari. Ia terlempar ke desil 6 ke atas.
“Bagaimana lagi, mungkin belum rezeki,” ucapnya pasrah.
Jeritan serupa datang dari Sorek Satu, Pangkalan Kuras. Dua janda bernama samaran Mawar dan Melati mengaku sudah kapok menjadi objek pendataan.
“Kapok saya dimintai data terus. Tapi ngga apa-apa saya ikhlas. Tapi dikasihkanlah sama orang yang butuh. Bukan sama orang-orang kaya,” tegasnya lewat telepon.
Mengapa bisa separah ini? Diduga kuat, DTSEN yang merupakan hasil kawin paksa data DTKS, Regsosek, dan P3KE hanya dikerjakan di atas meja. Tanpa cek lapangan. Tanpa melihat langsung siapa yang lapar dan siapa yang kenyang. Hasilnya, pemeringkatan desil jadi ajang lotre yang ngawur.
Ironisnya, saat dimintai konfirmasi soal mekanisme amburadul ini, Kepala Desa Makmur, Suwardi, justru angkat tangan.
“Telpon saja dia, tak paham saya menjelaskannya,” jawabnya singkat.
Hingga Rabu (16/09/2026) malam, Dinas Sosial dan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Pelalawan kompak bungkam. Tak ada klarifikasi, tak ada solusi.
Jika pembiaran ini terus terjadi, yang meledak bukan hanya perut kosong warga miskin, tapi juga bom kecemburuan sosial.
Editor : Zurwanto
Sumber Berita : PW.FRN








