NGANJUK, LINGKARAN POLRI – Kabar duka menyelimuti keluarga besar MAN 3 Nganjuk, Kecamatan Prambon. Seorang guru, Suadi (56), meninggal dunia pada Sabtu (5/9/2026) setelah sempat menjalani perawatan medis selama beberapa hari.
Kepergian Suadi sempat diwarnai kabar yang beredar di tengah masyarakat terkait dugaan dirinya menjadi korban pengeroyokan siswa. Namun, pihak sekolah dengan tegas membantah informasi tersebut.
Humas MAN 3 Nganjuk, Ihwan Nusofa, mengatakan kejadian yang sebenarnya tidak seperti isu yang berkembang. Menurutnya, tidak ada pengeroyokan yang dilakukan oleh siswa terhadap almarhum.
“Isu adanya pengeroyokan oleh siswa itu tidak benar. Kejadian sebenarnya tidak seperti rumor yang beredar,” ujar Ihwan saat dikonfirmasi awak media, Selasa (8/9/2026).
Berawal dari Ketukan Pintu Toilet
Ihwan menjelaskan, peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (1/9/2026) sekitar pukul 11.00 WIB. Saat itu Suadi sedang berada di toilet sekolah.
Dari luar toilet, sejumlah siswa disebut mengetuk pintu secara bergantian. Ketukan terakhir terdengar cukup keras. Setelah keluar, Suadi kemudian mencari siswa yang mengetuk pintu tersebut dengan maksud memberikan teguran.
Saat bertemu dengan siswa yang dimaksud, Suadi disebut hendak menegur agar siswa memahami etika dan sopan santun.
Dalam situasi tersebut, Suadi secara refleks memegang atau menjewer telinga siswa. Siswa kemudian mengelak atau menangkis secara refleks. Akibatnya, Suadi kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh, namun segera mendapat pertolongan dari orang di sekitar lokasi.
Setelah kejadian itu, Suadi sempat berniat kembali menjalankan aktivitas mengajar. Namun, kondisinya tiba-tiba menurun. Ia mengalami mual, muntah hingga akhirnya pingsan.
Rekan-rekan sesama guru kemudian membawa Suadi ke puskesmas sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Selama kurang lebih empat hari menjalani perawatan, kondisi Suadi terus mendapat penanganan medis. Namun, pada Sabtu (5/9/2026), ia dinyatakan meninggal dunia.
Menurut keterangan pihak sekolah, almarhum disebut memiliki riwayat hipertensi. Pihak sekolah menyampaikan bahwa tekanan darahnya mengalami peningkatan saat kejadian tersebut.
Polisi Masih Dalami Kejadian
Meski pihak sekolah telah memberikan klarifikasi mengenai isu pengeroyokan, proses pendalaman tetap dilakukan aparat kepolisian untuk memastikan rangkaian kejadian secara utuh.
Sejumlah pihak disebut telah dimintai keterangan, termasuk Kepala MAN 3 Nganjuk serta guru yang mendampingi almarhum saat proses evakuasi menuju fasilitas kesehatan.
Dengan adanya proses pendalaman tersebut, pihak sekolah berharap masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan kejadian berdasarkan informasi yang belum terverifikasi.
Kabar meninggalnya Suadi menjadi duka bagi keluarga besar MAN 3 Nganjuk. Pihak sekolah juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan.
(Puji Yatemi | Lingkaranpolri.id)
Penulis : Puji Yatemi







