Pelalawan – Riau | Lingkaranpolri.id
Proses konfirmasi wartawan ke Kepsek H. Nasril, S.Pd., M.Pd di SMK Negeri 1 Pangkalan Kerinci menjadi sorotan. Seorang wartawan mengaku dihalangi oleh sekuriti saat hendak menemui Kepala Sekolah setelah sebelumnya memperoleh respons melalui percakapan WhatsApp. Kamis (6/82026).
Berdasarkan percakapan yang diperlihatkan wartawan kepada petugas sekuriti bernama Danang, Kepala Sekolah menyampaikan bahwa dirinya sedang dinas luar dan menawarkan agar pertemuan dilakukan keesokan harinya.
Dalam percakapan tersebut tertulis pada hari Rabu 5 Agustus 2026. “Selamat pagi Pak Kepsek. Izin Pak Kepsek, jam 9 pagi ini saya mau jumpa dengan Pak Kepsek,” jelas Junius.
Kepala sekolah kemudian membalas. “Selamat pagi. Maaf hari ini saya dinas luar. Besok gimana?” jawabnya.
Percakapan itu kemudian diperlihatkan kepada petugas sekuriti bernama Danang sebagai bukti bahwa wartawan memang memiliki kepentingan untuk melakukan konfirmasi kepada kepala sekolah.
Sekuriti Dinilai Mengajukan Pertanyaan Berlebihan
Meski telah menunjukkan percakapan tersebut, wartawan mengaku tidak langsung diarahkan sesuai prosedur. Sebaliknya, petugas sekuriti disebut mengajukan berbagai pertanyaan mengenai tujuan kedatangan dan materi konfirmasi yang akan disampaikan.
Menurutnya, pertanyaan yang diajukan dinilai terlalu jauh hingga menyentuh substansi konfirmasi yang seharusnya menjadi kewenangan narasumber, yakni kepala sekolah.
“Sekuriti ini saya pikir melebihi kepala sekolah, saya dengan baik-baik sudah menunjukkan chat kepsek sebelumnya bahwa hari ini kami bertemu. Tapi sikap sekuriti sengaja menunjukkan skillnya mengintrogasi wartawan dan menanyakan detail konfirmasi saya yang seharusnya saya berkepentingan dengan kepsek,” jelas Junius.
Media ini menilai, petugas keamanan semestinya menjalankan fungsi pengamanan dan pelayanan tamu sesuai prosedur tanpa memasuki substansi pekerjaan jurnalistik maupun materi konfirmasi yang akan dilakukan kepada narasumber.
Menurutnya, apabila benar terdapat pembatasan akses yang tidak proporsional, hal tersebut mengahalangi wartawan dan menghambat proses konfirmasi yang merupakan bagian dari prinsip keberimbangan dalam pemberitaan.
Diminta pihak sekolah dapat melakukan evaluasi terhadap mekanisme pelayanan tamu, khususnya terhadap petugas yang bertugas di pintu masuk sekolah.
“Jika sekolah membiarkan hal seperti ini dan memelihara petugas yang tidak profesional di lingkungan sekolah patut diduga memiliki mental yang bukan kritis, tetapi tidak ada etika kepada masyarakat,” ucap Junius.
Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat keterangan resmi dari pihak sekolah terkait mekanisme penerimaan tamu maupun penjelasan mengenai tindakan petugas sekuriti saat wartawan datang untuk melakukan konfirmasi.
Jurnalis : Junius Zalukhu








